Minggu, 02 Desember 2012

Unsur-unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Cerpen

Unsur-unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Cerpen


Unsur intrinsik adalah unsur yang terkandung dalam cerpen itu sendiri. Adapun
unsur-unsur intrinsik tersebut adalah.
1. Tema
Tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai
titik tolak pengarang dalam memaparkan karya yang diciptakannya. (Aminudin, 2004: 83)
Keraf (1994: 107) menyatakan bahwa kata tema berasal dari kata tithenai,
bahasa Yunani yang berarti “menempatkan” atau “meletakkan”. Menurut arti
katanya, tema berarti sesuatu yang telah diuraikan atau sesuatu yang telah
ditempatkan. Disebut demikian karena tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi pengarangnya. Dengan kata lain, tema merupakan sesuatu yang menjadi ide pikiran atau persoalan yang diungkapkan dalam sebuah cipta rasa.
Tema adalah suatu hal yang berkaitan dengan pandangan, pendapat, atau
sikap pengarang terhadap suatu masalah sedangkan masalah adalah suatu hal yangharus diselesaikan. Sebuah tema pada dasarnya merupakan abstraksi dari suatu masalah. Oleh karena itu, tema sebuah karya sastra haruslah diabstraksikan dari masalah utama yang diungkapkan pengarang dalam karyanya.
2. Alur
Alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa
sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita(Aminuddin, 2004: 83).
Loban dalam Aminuddin (2004: 84) menggambarkan gerak tahapan alur
seperti halnya gelombang. Gelombang itu berawal dari (1) eksposisi (2) komplikasi atau intrik-intrik awal yang akan berkembang menjadi konflik, (3) klimaks (4) relevasi atau penyingkatan tabir suatu problem, dan (5) denoument atau penyelesaian yang membahagiakan, atau dapat disebut sebagai catastrophe jika penyelesaian menyedihkan, ataupun solution jika penyelesaian yang masih bersifat terbuka karena pembaca sendirilah yang dipersilakan menyelesaikan melalui daya imajinasinya.
3. Latar (Setting)
Latar adalah tempat, waktu, maupun situasi tertentu yang melatarbelakangi
peristiwa-peristiwa dalam cerita, baik latar ynag bersifat fisikal (berhubungan dengan tempat) maupun latar yang bersifat psikologis (berupa lingkungan atau benda-benda dalam lingkungan tertentu yang mampu menuasakan suatu makna yang mampu mengapit emosi pembaca) (Aminudin, 2000 : 69).
Fungsi latar adalah memberikan informasi tentang situasi bagaimana adanya
dan proyeksi keadaan batin para tokoh. Latar pun merupakan salah satu unsur yangpenting bagi penentuan nilai estetika karya satra serta salah satu fakta cerita yang harus diperhatikan.
4. Tokoh
Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa itu mampu menjalin suatu
cerita sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu disebut denganpenokohan (Aminudin, 2004 : 79). Tokoh dalam sebuah cerpen dapat terdiri atas beberapa orang, tetapi berperan sebagai tokoh utama biasanya tidak lebih dari dua orang. Tokoh lain berfungsi sebagai penegas keberadaan tokoh utamanya. Tokoh utama biasanya menjadi sentral cerita, baik protagonis maupun antagonis.
Menurut Sumardjo dan Saini (1991: 65-66) , melukiskan suatu watak tokoh
dalam cerita dapat dilakukan melalui (1) perbuatannya, terutama bagaimana bersikap dalam menghadapi situasi kritis (2) ucapan-ucapannya (3) gambaran fisiknya, dan (4) keterangan langsung yang ditulis oleh pengarang.
5. Sudut Pandang
Sudut pandang adalah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita
yang dipaparkannya (Aminudin, 2004 : 90). Dalam menyuguhkan cerita, pengarang dapat mengambil atau memilih suatu posisi serta kedudukan tertentu terhadap suatu kisah yang dipaparkannya.
Ada kalanya seorang pengarang hanya mengambil posisi sebagai orang ketiga saja atau berada diluar cerita yang dikisahkannya. Namun, kemungkinan juga pengarang akan melibatkan diri serta ikut bermain sebagai salah satu tikih dalam cerita tanpa mengurangi sifat rekaan cerita tersebut. Sudut pandang penceritaan terdiri atas (1) Narrator omniscient, yaitu pengarang sebagai pelaku cerita (2) Narrator observer, yaitu pengarang sebagaipengamat terhadap pemunculan para pelaku serta hanya tahu dalam batas tertentu tentang perilakubatiniah para pelaku (3) Narrator observer omniscient, dan (4) Narrator the third person omniscient.
6. Amanat
Amanat adalah gagasan yang mendasari cerita atau pesan yang ingin
disampaikan pengarang kepada pembaca. Amanat merupakan pemecahan suatu tema yang mencerminkan pandangan hidup pengarang. Berdasarkan cara penyampaiannya, Nurgiyantoro (1995: 335) membaginya dalam dua wujud, yaitu penyampaian
langsung dan penyampaian tidak langsung.


2. Unsur-unsur Ekstrinsik Cerpen
Unsur ekstrinsik merupakan unsur yang tak kalah penting jika dibandingkan
dengan dengan unsur intrinsik. Unsur-unsur ekstrinsik dalam sebuah cerpen adalah unsur-unsur yang berada diluar cerpen tersebut. Tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan cerpen tersebut. “secara khusus unsur ekstrinsik dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita dalam sebuah karya sastra” (Nurgiyantoro, 1995 : 22). Unsur-unsur ekstrinsik yang dimaksud adalah :
1) Biografi, yaitu keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sifat, keyakinan.dan pandangan hidup yang semuanya itu akan mempengaruhi corak karya sastra yang ditulisnya;
2) Psikologi, baik psikologi yang mencakup proses kreatifnya, maupun penerapan prinsip psikologi politik dan sosial juga yang akan berpengaruh terhadap karya sastra yang diciptakannya;
3) Keadaan masyarakat di tempat pengarang pun dapat mempengaruhi karya yang dibuat pengarang, contohnya ekonomi, politik, dan sosial.

NARASI SUGESTIF DAN EKSPOSITORIS

NARASI

Narasi adalah cerita. Narasi merupakan suatu bentuk karangan yang mengisahkan suatu peristiwa atau kejadian yang disusun menurut urutan peristiwa/kejadian dan waktu dengan tujuan untuk menciptakan kesan atau pengalaman pada pembaca.
Unsur pokok dalam narasi adalah tokoh, peristiwa/kejadian, dan waktu.
Contoh paragraf narasi
Dari sebuah kantung di dalam keranjang besarnya, Wak Katok mengeluarkan daun ramu-ramuan. Kemudian ia membersihkan luka-luka Pak Balam dengan air panas dan Wak Katok menutup luka besar di betis dengan ramuan daun-daun yang kemudian dibungkus dengan sobekan kain sarung Pak Balam. Wak Katok merebus ramuan obat-obatan sambil membaca mantera-mantera, dan setelah air mendidih, air obat dituangkan ke dalam mangkok dari batok kelapa. Setelah air agak dingin, Wak Katok meminumkannya kepada Pak Balam sedikit demi sedikit.
(Harimau! Harimau! Karya Mochtar Lubis)
Narasi dibedakan menjadi 2, yaitu:
1.   Narasi Ekspositoris, yaitu narasi yang mengisahkan serangkaian peristiwa yang benar-banar nyata dan terjadi (fakta). Dalam narasi ekspositoris, logika merupakan hal yang penting. Sasaran utamanya adalah rasio. Isinya menyampaikan informasi untuk memperluas pengetahuan pembaca. Disebut juga narasi nonfiksi.
Contoh narasi ekspositoris adalah biografi, autobiografi, riwayat perjalanan.
2.  Narasi Sugestif, yaitu narasi yang mengisahkan suatu hasil rekaan, khayalan, atau imajinasi pengarang. Bersifat fiktif. Narasi sugestif selalu melibatkan daya khayal atau imajinasi karena sasaran yang ingin dicapai adalah kesan terhadap peristiwa  itu. Disebut juga narasi fiksi.
Contoh narasi sugestif adalah cerpen, novel dongeng, dsb.
Perbedaan narasi ekspositoris dan narasi sugestif terlihat dalam tabel berikut.
No Narasi Ekspositoris No Narasi Sugestif
1. Memperluas pengetahuan pembaca 1. Menyampaikan makna atau amanat yang tersirat
2. Menyampaikan informasi tentang suatu kejadian 2. Menimbulkan daya khayal
3. Bahasanya cenderung informatif, menggunakan kata-kata denotatif 3. Bahasanya cenderung figuratif, sugestif, dan konotatif
4. Didasarkan pada penalaran 4. Penalaran hanya berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan makna, kalau perlu penalaran dapat dilanggar, misalnya dalam dongeng.
Ciri/karakteristik paragraf narasi sebagai berikut.
  1. Narasi berisi kisah atau cerita tentang peristiwa atau kejadian
  2. Narasi memiliki unsur tokoh, peristiwa, dan waktu.
  3. Narasi dapat bersifat fiksi maupun nonfiksi
  4. Narasi bertujuan menciptakan kesan atau pengalaman kepada pembaca.
Berikut ini contoh paragraf narasi ekspositoris dan narasi sugestif yang dikembangkan dari topik yang sama.
Narasi ekspositoris
Saat ini Ali sedang menghadapi ulangan matematika. Ia merasa sangat kesulitan. Dalam hati ia menyesal, karena semalam tidak belajar. Tak satu pun soal dapat terjawab. Ia lalu berpikir untuk bertanya pada teman yang duduk di sampingnya. Namun, ia ragu. Ia takut kalau perbuatannya diketahui oleh pengawas.
Narasi sugestif
Saat ini Ali sedang duduk menatap soal matematika yang ada di depannya. Ia terpaku karena tak bisa mengerjakan soal-soal itu. Dalam hati ia menyesal, karena semalam ia menghabiskan waktu dengan bermain game. Tak satu pun soal yang dapat terpecahkan, meskipun seluruh kekuatan otaknya sudah dikerahkan. Terlintas dalam pikirannya untuk bertanya pada teman yang duduk di sampingnya. Namun, ketakutan merayapi perasaannya, mengingat mata pengawas selalu berkeliaran di seluruh penjuru ruang kelas.
Dua contoh narasi di atas menceritakan sebuah peristiwa yang sama, yaitu ketika Ali menghadapi ulangan matematika. Namun, keduanya dikembangkan dengan cara yang berbeda. Dapatkah Anda merasakan perbedaan itu? Apa yang menyebabkan keduanya menjadi berbeda?
Ada beberapa cara mengembangkan paragraf narasi:
1. Pola hubungan kejadian dan runtun peristiwa
Pola hubungan kejadian dan runtun peristiwa menggambarkan suatu peristiwa menurut rangkaian kejadian dan urutan peristiwanya.
Menggambarkan sejelas-jelasnya suatu peristiwa menurut urutan peristiwa. Hal ini dapat dikembangkan dengan dua cara/pola:
  1. Pola urutan kejadian/peristiwa.
  2. Pola waktu terjadinya peristiwa
Contoh pola urutan kejadian/peristiwa:
Setiap pagi kegiatanku itu-itu saja. Pagi-pagi sekali aku harus bangun tidur. Tak lama kemudian aku mandi agar tubuhku segar. Salat subuh kulakukan setelah aku berpakaian rapi. Walaupun harus buru-buru, aku selalu menyempatkan makan pagi. Biasanya, aku berangkat kerja lima belas menit sebelum jam kerja dimulai. Setiap hari kegiatanku hanya berada di antara rumah dan kantor.
Contoh pola waktu terjadinya peristiwa:
Agenda kerjaku hari ini begitu padat. Pukul 07.00 aku harus sudah berada di kantor. Bukan hanya itu. Bahkan, tepat pada saat itu aku harus sudah berada di kelas untuk mengatur suasana kelas agar terkondisi belajar. Biasanya ini butuh waktu lima belas menit. Pukul 07.15 PBM baru bisa dimulai dan berlangsung selama sembilan puluh menit, lalu pindah ke kelas lainnya dengan pola kurang lebih sama. Pukul 10.00 aku baru bisa menikmati istirahat sampai lima belas menit ke depan. Pukul 10.15 aku kembali masuk ke kelas yang berbeda. Selama sembilan puluh menit pula aku mengajar di sana. Tepat pukul 11.45 aku baru bisa menikmati waktu istirahat selama 45 menit untuk salat dan makan. Namun, bukan berarti pekerjaanku sudah selesai.
2. pola hubungan mula dan akhir
Pola hubungan mula dan akhir penekanannya pada penjelasan “mula-mulanya” dan “akhirnya”.
Contoh:
Prosesnya cukup cepat. Mula-mula saya menyiapkan naskahnya. Naskah itu lalu saya bawa ke bagian peneriamaan naskah. Kemudian, saya mendiskusikan dengan Pak Broto mengenai bentuk akhir majalah. Selanjutnya, naskah yang sudah diatur tata letaknya dibawa ke bagian percetakan. Akhirnya, kita tinggal menunggu hasilnya.

Perbedaan paragraf Narasi dan Deskripsi


Paragraf Narasi merupakan salah satu jenis paragraf yang mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa berdasarkan urutan waktu. Paragraf narasi terdiri atas narasi kejadian dan narasi runtut cerita.

Contoh Paragraf Narasi :

Liburan sekolah beberapa tahun yang lalu, saya dan ibu pergi ke Pontianak. Pontianak merupakan ibu kota Provinsi Kalimantan Barat.
Di Pontianak, banyak sekali keunikan dan tempat menarik yang merupakan ciri khas KOta Pontianak. Perjalanan kurang lebih 2 jam dengan menggunakan pesawat. Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Sintawang. Waktu tempuh menuju Sintawang kurang lebih sembilan jam dari Pontianak jika menggunakan mobil. daerah ini terkenal sebagai penghasil tenun ikat. Motif tenun ikatnya sangat unik dan coraknya sangat khas Kalimantan Barat. Harga tenun ikat ini tergolong mahal, tergantung motif dan bahannya. Harganya bisa mencapai ratusan ribu, bahkan jutaan Rupiah.

Paragraf Deskripsi : Karangan ini berisi gambaran mengenai suatu hal/keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut.

Contoh Paragraf Deskripsi :

Pemandangan Pantai Parangtritis - Yogya sangat mempesona. di sebelah kiri terlihat tebing yang sangat tinggi dan di sebelah kanan kita bisa melihat batu karang besar yang seolah-olah siap menjaga gempuran ombak yang datang setiap saat. Banyaknya wisatawan yang selalu mengunjungi Pantai Parangtritis ini membuat pantai ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Di pantai Parangtritis ini kita bisa bermain pasir dan merasakan hembusan segar angin laut. Kita juga bisa naik kuda ataupun angkutan sejenis andong yang bisa membawa kita ke area karang laut yang sungguh sangat indah. Disore hari, kita bisa melihat matahari terbenam yang merupakan momen sangat istimewa melihat matahari yang seolah-olah amsuk ke dalam hamparan air laut.

Ciri-Ciri Puisi Lama dan Puisi Baru

Ciri-Ciri Puisi Lama dan Puisi Baru
Ciri-ciri puisi
Berdasarkan sejarah perpuisian Indonesia modern, secara garis besar puisi dapat dibagi menjadi: Puisi Lama, Puisi Balai Pustaka, Puisi Pujangga Baru atau Puisi Baru, Puisi Angkatan 45 atau Puisi Bebas, dan Puisi Kontemporer. sesuai dengan tujuan, pembahasan apresiasi puisi ini dibatasi pada jenis, ciri-ciri, dan contoh-contoh Puisi Lama dan Puisi Baru.
1) Puisi Lama
Puisi Lama (sering disebut juga puisi Melayu Lama) adalah puisi yang memancarkan kehidupan masyarakat lama, adat istiadat, dan kebiasaan masyarakat lama (Alisjahbana,1954: 4). Kita mengenal beberapa jenis puisinya, antara lain: pantun, syair, gurindam, dan talibun.
Pantun adalah jenis puisi lama yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
(a) setiap baitnya terdiri atas empat larik/baris;
(b) memiliki rima akhir (persamaan bunyi) /a/-/b/-/a/-/b/;
(c) tiap larik biasanya terdiri atas empat kata; (d) larik pertama dan kedua merupakan sampiran (semacam teka-teki), sedangkan larik ketiga dan keempat merupakan isi. Berikut beberapa contohnya. 
Elok rupanya si kumbang jati,
dibawa itik pulang petang.
Tidak terkata besar hati,
melihat ibu sudah datang.
Hiu beli belanak pun beli,
udang di Manggung beli pula.
Adik benci kakak pun benci,

orang di kampung benci pula.
Menilik ragam isinya ada tiga macam jenis pantun, yaitu: pantun anak-anak, pantun orang muda, dan pantun orangtua. Pantun anak-anak dapat dirinci menjadi pantun bersukacita dan pantun berdukacita.Pantun orang muda dapat dibagi menjadi pantun dagang/nasib, pantun muda, dan pantun jenaka.Adapun pantun muda masih dapat digolongkan ke dalam pantun berkenalan, pantun berkasih-kasihan, pantun perceraian, dan pantun beriba hati.Sementara itu, pantun orangtua dapat dibagi menjadi pantun nasihat, pantun adat, dan pantun agama.

Beberapa contoh pantun berikut ini dapat Anda tebak termasuk jenis yang mana. 
Dari ke mana hendak ke mana,
dari Jepang ke bandar Cina.
Kalau boleh kami bertanya,
bunga yang kembang siapa punya.
Pecah ombak di Tanjung Cina,
menghempas pecah di tepian.
Biarlah makan dibagi dua,
asalkan adik jangan tinggalkan.
Pulau Pandan jauh di tengah,
di balik Pulau Angsa Dua.
Hancur badan di kandung tanah,
budi baik terkenang jua
.
Syair adalah jenis puisi lama yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (a) setiap baitnya terdiri atas empat larik; (b) mempunyai rima yang sama setiap lariknya, yaitu /a/-/a/-/a/-/a/; (c) semua larik merupakan isi, biasanya tidak selesai dalam satu bait karena digunakan untuk menyampaikan suatu cerita; (d) isinya berupa cerita yang mengandung unsur mitos, sejarah, agama/falsafah, atau rekaan belaka. Contoh syair misalnya: Syair Singapura Dimakan Api (sejarah), Syair Perahu (berisi ajaran agama), Syair Bidadari (rekaan), Syair Ken Tambuhan (rekaan), dan lain-lain. Berikut dikutipan dua bait dari Syair Ken Tambuhan.

Gurindam adalah jenis puisi lama yang mempunyai ciri-ciri: (a) setiap bait terdiri atas dua larik; (b) setiap bait berima akhir /a/-/a/; (c) larik pertama merupakan sebab atau syarat, sedangkan larik kedua merupakan akibat atau simpulan; (d) kedua larik merupakan kesatuan yang utuh, dan isinya biasanya berupa nasihat tentang keagamaan, budi pekerti, pendidikan, moral, dan tingkah laku. Gurindam yang paling terkenal adalah Gurindam Dua Belas yang dikarang oleh Raja Ali Haji yang terdiri atas dua belas pasal.Berikut dikutipkan gurindam pasal II dan IV dari Gurindam Dua Belas.
II
Barangsiapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang.
Barangsiapa meninggalkan zakat
tiadalah hartanya beroleh berkat.

IV
Hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau lalim, segala anggota pun rubuh.
Pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala.

Talibun adalah jenis puisi lama yang mempunyai ciri-ciri: (a) setiap baitnya terdiri atas 6, 8, 10 larik lebih, bahkan sampai ada talibun yang satu baitnya terdiri atas 20 larik; (b) mempunyai sampiran dan isi; (c) rumus rimanya abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dan seterusnya; (d) terdiri dari dua bagian, bagian sampiran dan bagian isinya. Jadi, talibun yang terdiri dari 6 larik misalnya, tiga larik pertama merupakan sampiran, sedangkan 3 larik berikutnya merupakan isinya.Isinya bervariasi.Ada yang mengisahkan kebesaran/kehebatan sesuatu tempat, keajaiban sesuatu benda/peristiwa, kehebatan/kecantikan seseorang, dan kelakuan serta sikap manusia.Berikut dikutipkan berapa contoh talibun.
Contoh talibun 6 larik (abc-abc). 
 Kalau anak pergi ke lepau
Yu beli belanak pun beli
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi merantau
Ibu cari sanak pun cari
Induk semang cari dahulu


2) Puisi Baru
Puisi-puisi pada periode Pujangga Baru dikenal sebagai puisi baru. Ciri-cirinya antara lain:
a) para penyairnya sudah tidak lagi menulis puisi dalam bentuk pantun, syair, atau gurindam;
b) jenis puisinya mengikuti bentuk baru seperti distichon (2 larik), tersina (3 larik), quartrain (4 larik), quint (5 larik), sextet (6 larik), septima (7 larik), oktaf (8 larik), dan soneta (14 larik);
c) lariknya simetris, penuh rima dan irama;
d) pilihan katanya diwarnai dengan kata-kata yang indah-indah;
e) bahasa kiasan yang banyak dimanfaatkan adalah perbandingan.
Para penyairnya antara lain: Amir Hamzah, SutanTakdir Alisjahbana, J.E. Tatengkeng, dan Asmara Hadi Sebagai contoh berikut dikutipkan puisi karya J.E. Tatengkeng yang berjudul “Perasaan Seni”

PERASAAN SENI
(J.E. Tatengkeng) 
Bagaikan banjir gulung-gemulung,
Bagaikan topan seru-menderu,
Demikian Rasa,
Datang semasa.
Mengalir, menimbun, mendesak, mengepung,
Memenuhi sukma, menawan tubuh.
Serasa manis sejuknya embun,
Selagu merdu dersiknya angin,
Demikian Rasa,
Datang semasa,
Membisik, mengajak aku berpantun,
Mendayung jiwa ke tempat diingin.
Jika Kau datang sekuat raksasa,
Atau Kau menjelma secantik juwita,
Kusedia hati,
Akan berbakti,
Dalam tubuh Kau berkuasa,
Dalam dada Kau bertakhta.

Jumat, 30 November 2012

Frasa Endosentrik dan Eksosentrik



Frasa adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi.
Macam-macam Frasa:
A.       Frasa endosentrik
Frasa endosentrik adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya. Frase endosentrik dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu:
      1. Frasa endosentrik yang koordinatif, yaitu: frasa yang terdiri dari unsur-unsur yang setara, ini dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung.
Misalnya: kakek-nenek        pembinaan dan pengembangan
laki bini                      belajar atau bekerja
2. Frasa endosentrik  yang atributif, yaitu frasa yang terdiri dari unsur-unsur inti dan unsur pelengkap(atribut)
Misalnya:   perjalanan panjang
          hari libur
Perjalanan, hari merupakan unsur pusat, yaitu: unsur yang secara distribusional sama dengan seluruh frase dan secara semantik merupakan unsur terpenting, sedangkan unsur lainnya merupakan atributif.
3. Frasa endosentrik yang apositif: frasa yang atributnya berupa  aposisi/ keterangan tambahan.
   Misalnya: Susi, anak Pak Saleh, sangat  pandai.
           Dalam frasa Susi, anak Pak Saleh secara  sematik unsur yang satu, dalam hal ini unsur anak Pak Saleh, sama dengan unsur lainnya, yaitu Susi. Karena, unsur anak Pak Saleh dapat menggantikan unsur Susi. Perhatikan jajaran berikut:
Susi, anak Pak Saleh, sangat pandai
Susi, …., sangat pandai.
…., anak Pak Saleh sangat pandai.
Unsur Susi merupakan unsur pusat, sedangkan unsur anak Pak Saleh merupakan aposisi (Ap).
B.       Frasa Eksosentrik
      Frasa eksosentrik ialah frasa yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya.
Misalnya:
Siswa kelas 1A sedang bergotong royong di dalam kelas.
Frasa di dalam kelas tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya. Ketidaksamaan itu dapat dilihat dari jajaran berikut:
        Siswa kelas 1A sedang bergotong royong di ….
        Siswa kelas 1A sedang bergotong royong …. Kelas
C.     Jenis-jenis Frasa
 Frasa Nominal, frasa Verbal, frasa Bilangan, frasa  Keterangan, Frasa Adjektiva
1.   Frasa Nominal: frasa yang memiliki distributif yang sama dengan kata nominal.
           Misalnya: baju baru, rumah sakit
2.   Frasa Verbal: frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan golongan kata verbal.
          Misalnya: akan berlayar
3.   Frasa Bilangan: frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan.
          Misalnya: dua butir telur, sepuluh keping
4.   Frasa Keterangan: frasa yang  mempunyai distribusi yang sama dengan kata keterangan.
                Misalnya: tadi pagi, besok sore
5.   Frasa Depan: frasa yang terdiri dari kata depan sebagai penanda.
         Misalnya: di halaman sekolah, dari desa
    6.  Frasa Adjektiva : frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata sifat
                    Misalnya: pintar sekali, sangat indah


Latihan soal
Temukanlah frasa dalam kalimat di bawah ini!
1. Mereka/ sudah mengetahui/ hal itu.
2. Dua siswa/ sedang membaca/ buku/ di perpustakaan.
3. Anak itu/ hanya membeli/ telur/ tiga butir.
4. Indonesia, Negara seribu pulau/ mempunyai/ beraneka               macam suku dan budaya.
5. Laki-laki dan perempuan/ mulai menyeberangi/ sungai itu/    dengan perahu.
6. Ia/ bekerja keras/ untuk  meraih cita-citanya.
7. Dia/ diangkat/ sebagai mandor/ untuk memimpin beberapa          pekerjaan lainnya.
8. Rumah-rumah semrawut itu/ akan dibongkar.
9. Jam setengah enam/ keluarga pamanku/ pulang.
   10. Lahan itu/ akan dijadikan/ perumahan sederhana.


Selasa, 27 November 2012

Warna

Serasa indah itu pun warna
Serasa lelah berbaring di muka rahasia tak berniat mencarikan makna
Memenjarakan ingin membawanya terbang
Langkah kaki menjadi pijakan dengan arah pasti
Tuangkan mimpi menjadi nyata
Dengan harap penuh rasa
Akupun akan tidur diperaduan senja
Dengan terang yang tak terbias lambat
Laun waktu ini mencair
Mengaliri jalan hidup dengan arah yang semestinya

Mekipun Pedih Takkan Indah Nian

saat hati berpaut sendu
aku tak berharap mengantikan duka
serasa perih terbit dari timur menghanyut angan bercampur cita
wahai jelita wangi kau taburkan bunga
penuh harap ku coba menghirup wangi dunia
bersama indah mentari kau tebarkan pesona
bersama kerlip bintang tak satupun niat hati memetikmu
tak lagi heran ku memandang ronamu
tak kan sepi sendiri bertemankan mimpi
aku kan luluh dengan cairan yang memanasiku menjadi air
sejuk bercampurkan lara yang kan ku hanyutkan
bersama alur cerita waktu ini kan terus berganti
bersama hilangnya peraduan menutup kisah itu
menghanyutkan ragaku takkan indah rasa dan tak kan perih hati
serasa cinta takkan punah dengan isian cermin hatiku

indah itu pun selalu ada

kau datang menghampiri angan
 kau hilang membingkaikan tanya
ruas hati takkan terhitung dengan jumlah yang ada
kau yang tak sanggup ku depakapi
ini bukanlah akhir dari penantian
bidadaripun tak sanggup tersenyum
 bila rasa itu menjadi racun penutup dahaga
sekarang dan selamanya
indah itu ada meski harus pedih yang selalu menggelayuti
senantiasa gerakan waktu ku ikuti
kan kuambil sari hati senyumnya yang mendamaikan resah ini
ku memandangmu aku pun tak tahu ku memelukmu
 aku pun tak merasa ku mencium mu
aku pun tak mengerti ku menyayangimu
resah nertapun hilang
memutuskan tali nafsuku
bersama awan biru kugegam erat tanganmu
kan kukepakkan sayapku
membawamu terbang bersama arti hidupku
bersama cita dan harapanmu
kau terasa indah membawa lantunan lagu
yang terdengar sendu
membawa biru warna hatiku
senyummu senantiasa menghangatkan kalbu
takkan pernah cukup hari ini yang kan kuganti
dengan esok tutur kata mu
tak kan pernah mengucap perih lirih lukisan tawamu
menampilkan rahasia yang takkan mungkin ku temukan
seperti melati putih itu kau tampakkan
wujud dengan seluruh indahnya

senyummu itu yang selalu menenangkanku

indah pada waktunya tak seindah rupa warna serasa
 bening hati membawanya terus mengalir
 aku disini terus menanti yang kiranya itu pasti
 benamkan wajah mu seirama suara hati
yang menggema kiranya mentari
selalu menerangi hati ini
membawanya indah
memngatupkan tangan bersujud mengucap syukur
dimanakah dia yang menyelami hati ini
membawaku menari-nari dengan riangnya
tanpa hujaman derita meluluhkan niat yang tak kunjung padam
semerbak mewangi menyelimuti mimpi
akan kah kau mengerti
dan ku tak tahu perasaan yang membawaku kini
kau tidurkan aku dalam kedamaian
yang selalu menanti senyummu itu
yang selalu menenangkanku harapanku
pun takkan pupus meski hanya sesaat
kau ada di peraduannya
serasa kau bisikkan nada-nada berdendang rasa
 mengapa ku harus seperti ini
tunjukkan aku sesuatu yang berharap itu
 satu dan haruskah lelah ini menerawang hatiku pun
merayu meleburkan asa ini mohon tunjukkan
aku jangan biarkan ini menyakitiku
aku semakin lemah tak berdaya
mencairkan semangat
mohon aku jangan kau buat aku begitu

aku ingin seperti malaikat

seperti awan putih membawa secercah harapan
menghiasi indahnya pagi
terketuk dengan semangat
aku pun sirna dengan apa yang ada
bisikan hati menjadi sempurna tatkala hilang berselimut duka
seperti jalan yang aku lalui tak seindah matahari kan turun ke bumi
menyinari dengan secercah pesona raga ini
akan hilang bersama redupnya zaman
tapi hanya satu keinginan biarkan jiwaku berlari bersama sayap kecil
menari-nari di awan putih dan menyanyikan lagu
mengiringi lantunan nada nada yang tak berkesudahan

selamat tinggal matahari

di saat itu kau selalu menghangatkanku
di waktu itu pula aku slalu tersenyum padamu
awan itu datang bersama mendungnya
aku selalu menantimu
tuk sekejab saja itu sinarmu kan muncul
 saat sinar mentari menyengatku
 ku kan diam walaupun menusuk hatiku
 saat dunia ini tersenyum akan indahnya sang surya
aku pun slalu memujimu
aku takut akan hilangnya sinarmu di malam itu
haruskah itu berlalu
 oh malamku jangan kau ambil dia padaku
meskipunku harus menunggu di esok hari
 tapi aku tak sanggup akan hal itu
saat ini pula aku harus bertahan dengan dinginnya malammu
 tolong aku cahayaku dimanakah kau kini
 mengapa ku harus menunggu itu
mengapa harus begitu
 haruskah ku coba bertahan
 ampun aku jangan begitu
rasapun tak mampu memulihkan itu
 pilunya rindu pasti akan menjeratku malam
 kau malam mengapa kau bawa dia dan tak kembali
 mengapa kau biarkan aku tertidur
mengapa kau biarkan aku pulas dan bermimpi
dengan sinarnya mohon tolong jangan kau bawa cahayaku
 biarlah ku coba menantimu bersinar
biarlah ku coba tuk terjaga
dan seandainya petang itu selalu menemaniku
biarlah itu aku mencoba
semuanya menjadi mampu
selamat tinggal matahari
 bersianarlah terang dengan cahayamu
 berikanlah seseorang yang bisa membutuhkanmu
merangkul rindu dan selalu meneduhkan hatinya
bawalah terang bahagia bersama

Pengertian Ringkasan, Rangkuman, Ikhtisar, dan Sinopsis

Pengertian Ringkasan, Rangkuman, Ikhtisar, dan Sinopsis Kita sering mendengar kata ringkasan, rangkuman ikhtisar dan sinopsis. Pernahk...